Rabu, 20 Oktober 2010

Muroqobah

M U R O Q O B A H
Oleh : Drs. Ahmad Samsuri.

Muroqobah ialah selalu merasa diawasi dan disertai oleh Allah SWT. Allah telah mengingatkan bahwa sesungguhnya Dia itu cahaya di atas cahaya dan cahayaNya bisa menembus tembok setebal apapun dan terbuat dari bahan apapun. Demikianpun Ia mengingatkan bahwa Sesungguhnya Tuhanmu amat sangat Maha Peneliti ( QS.Al-Fajr).  Lalu Allah juga mengingatkan bahwa, “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya ( manusia ) melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” ( QS.Qaf: 18 ). Dua malaikat yanga dimaksud adalah Raqib dan ‘Atid.
Muroqobah merupakan salah satu akhlak Islam yang segarusnya dimiliki oleh setiap muslim. Karena dengan keyakinan yang kuat bahwa kita senantiasa berada dalam pengawasan Allah SWT, akan mendorong kita untuk senantiasa giat dan gigih melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Muroqobah akan melahirkan sikap yang adil dan jujur . Kejujuran dan keadilan dalam hidup adalah modal utama dalam mewujudkan keselamatan baik di dunia utamanya di akhirat.  Berbuat adil dan jujur juga merupakan akhlak Islam yanag bahkan diperintahkan Allah dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang-orang yang benar-benar ( dengan efektif dan konsisten ) menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah sekalipun terhadap diri sendiri ataupun ibu bapak dan kaum kerabat” ( QS. An-Nisa’ : 135 ).
Dalam pengertian yang lain, muroqobah dapat diartikan kewaspadaan atau pengawasan, yakni teliti dan hati-hati serta bersikap siaga menghadapi segala sesuatu yang menakutkan dan membahayakan, yang sewaktu-waktu menimpa diri. Kewaspadaan memang perlu  dalam kehidupan, karena shiratal mustaqim ( jalan lurus ) yang selalu kita mohon bimbingan Allah untuk dapat melaluinya, memang harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan waspada. Bila tidak hati-hati dan waspada, maka sangat mungkin kita tergelincir di atasnya dan jatuh ke lembah yang hina.
Lebih dari itu, setiap orang diminta untuk selalu waspada dalam setiap setiap  langkah dan aktivitasnya  ketika mengarungi hidup dan kehidupan ini. Rasulullah SAW mengingatkan dalam sabda beliau, “Sesungguhnya dunia ini sangat manis dan indah ( menarik perhatian ) dan Allah menyerahkan kepada kamu untuk dilihat bagaimana kamu berbuat, karena itu berhati-hatilah ( waspadalah ) dan berhati-hatilah dalam dunia dan berhati-hatilah dari wanita “ ( HR.Muslim ). Dalam tulisan singkat ini akan diuraikan sedikitnya empat hal yang perlu diwaspadai.
Pertama, mewaspadai kemaksiatan.  Kemaksiatan sering dilakukan orang dalam hidupnya baik disengaja maupun karena terlena. Apapun alasannya, kemaksiatan tetaplah kemaksiatan.  Sebagai seorang muslim, kita dianjurkan untuk terus mewaspadai kemaksiatan. Dalam sebuah haduts, Rasulullah SAW bersabda, “ Peliharalah  ( perintah ) Allah. Maka Allah akan memeliharamu, dan peliharalah  ( larangan ) Allah, niscaya kamu dapati Allah selalu di hadapanmu “ ( HR. Attirmidzi ).
Hadits ini dengan tegas memerintahkan kepada kita ummat Islam untuk waspada diri dari segala kemaksiatan dengan cara memelihara amanah dan perintah Allah, yakni mengikuti segala perintah-Nya dan semaksimal mungkin menjauhi segala larangan-Nya. Dalam hal mewaspadai diri dari berbagai bentuk maksiat, kita harus merasa takut kalau-kalau Allah menurunkan murka-Nya, menghentikan bantuan dan pertolongan-Nya, menyetop rezeki atau mungkin menghentikan pemeliharaan-Nya kepada kita.  Selain itu, waspada dari maksiat  juga dapat dilakukan dengan cara jangan sekali-kali berniat atau merencanakan perbautan maksiat, menjauhi tempat-tempat maksiat dan menghindar dari berteman dengan orang-orang yang suka berbuat maksiat, sebaliknya carilah teman yang sholeh-sholeha. Orang bijak berkata, “ Bila seseorang berteman dengan orang jahat, sedikit demi sedikit kejahatan temannya itu akan ia kerjakan tanpa ia sadari, bahkan ia bisa lebih jahat dari temannya itu, dan siapa yang membiasakan berteman dengan orang-orang yang baik, sedikit demi sedikit kebaikan temannya itu akan ia teladani dan boleh jadi ia akan lebih baik dari temannya itu”. Selanjutnya, agar diri terhindar dari perbuatan maksiat, sebaiknya memperbanyak zikrullah, sebab seseorang yang terus menerus ingat kepada Allah, ia tidak akan melakukan kemaksiatan.
Kedua, mewaspadai keluarga. Benar bahwa keluarga adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan ini. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan teman, istri, anak dan keluarga. Tapi tidak jarang keluarga dan anak seringkali menyebabkan manusia lupa dan lalai, bahkan terdorong untuk melakukan hal-hal yang terlarang dalama agama.  Kadang karena kecintaan kepada keluarga, tidak jarang membuat seseorang nekat melakukan korupsi, manipulasi, kolusi dan lain sebagainya. Berlindung di balik rasa cinta yang mendalam kepada keluarga, kadang seseorang merelakan dirinya melakukan hal-hal yang terlarang dalam agama.
Dalam hal kewaspadaan terhadap anak dan keluarga, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguh di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terdahap mereka “ ( QS. 64 : 14 ).  Yang dimaksud musuh dalam ayat ini, bahwa istri atau anak kadang dapat menjerumuskan suami atau ayahnya kepada perbuatan-perbuatan yang dilarang dalam agama.
Ketiga, waspada dari mengikuti hawa nafsu.  Nafsu merupakan elemen dari rohaniah manusia yang seringkali menyeret manusia melakukan perbuatan yang tidak baik dan meninggalkan kebenaran, baik itu kebenaran yang datang dari Allah ataupun kebenaran yang disepakati oleh manusia. Nafsu yang harus diwaspadai di antaranya adalah nafsu birahi/ seks, nafsu amarah, nafsu serakah, tamak dan lainnya. Waspada dan berhati-hati dari mengikutkan ahwa nafsu, berarti menjauhkan diri dari neraka. Rasulullah SAW bersabda, “Neraka diliputi dengan syahwat hawa nafsu dan syurga diliputi dengan kesukaran dan keberatan”  (HR. Muslim).
Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa syurga dan neraka tergantung atau ditentukan oleh pengendalian hawa nafsu. Mengendalikan hawa nafsu sesungguhnya merupakan pekerjaan yang sulit dan berat. Namun bila seseorang senantiasa dalam keyakinan bahwa Allah senantiasa mengawasinya dan meyakini bahwa menurutkan nafsu hanya akan memberikan kebahagiaan sesaat,  maka mengendalikan nafsu bukanlah pekerjaan yang sulit.
Orang-orang yang mampu mengendalikan dan mewaspadai hawa nafsunya, berarti ia telah mencari keridhaan Allah dan menuju kepada keberuntungan dan kebahagiaan abadi yaitu syurga yang dijanjikan Allah SWT. Firman Allah, “Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan Sesungguhnya Allah benar-benar  beserta orang-orang yang berbuat baik “ ( QS. 29 : 69
Di jaman seperti sekarang ini, adalah sangat penting bagi kita untuk senantiasa mengendalikan hawa nafsu, hal ini demi terhindarnya diri kita dari berbagai godaan duniawi yang sangat mempesona. Apakah itu godaan material, wanita-wanita cantik, barang-barang berharga seperti emas, intan, berlian, barang mewah seperti mobil, rumah mewah, pangkat jabatan seperti jabatan walikota, gubernur, atau kehidupan kota yang gemerlap dengan segala fasilitas kemaksiatan yang gampang diakses. Jika nafsu tidak dikendalikan, maka akan terjadilah suatu upaya yang membabi buta, menghalalkan segala cara demi menuruti keinginan hawa nafsu Hukum Allah di langgar, larangan Allah di “tabrak”, perintah Allah diabaikan dan disepelekan. Lalu kemudian mereka membuat hukum sendiri. Kalaupun mereka mengambil hukum dari Al-Qur-an, mereka mengambilnya setengah-setengah; bila menguntungkan bagi mereka,diambil, tetapi bila merugikan mereka abaikan. Poligami mereka terima dengan tangan terbuka, tetapi hukum potong tangan bagi pelaku korupsi, mereka tolak mentah-mentah dengan alasan akan abanyak orang yang tangannya buntung/puntung.
Mewaspadai dan mengendalikan hawa nafsu sesungguhnya dapat dilakukan dengan cara memperbanyak zikrullah, membiasakan diri pandai mensyukuri nikmat Allah sekecil apapun nikmat yang kita terima, sebab sebenarnya nikmat yang kita terima itu sangat besar, karena kesalahan dan dosa yang kita lakukan ternyata jauh lebih besar. Kemudian mempertebal dan memelihara sifat qona’ah / menerima dengan ikhlas dan rela pemberian Allah SWT. Memelihara penglihatan, mulut, tangan, kaki dan terutamanya hati, serta menyadari bahwa sesungguhnya hanya kerugian yang akan didapatkan oleh orang-orang yang menurutkan hawa nafsunya.
Keempat waspada terhadap orang kafir dan munafik. Golongan kafir dan mnafik merupakan musuh utama ummat Islam. Namun bila harus menomor satukan, maka sesungguhnya musuh ummat yang paling besar adalah golongan munafik, sebab ia bisa saja berasal dari ummat Islam itu sendiri. Kalau golongan kafir, telah jelas statusnya, tetapi golongan munafik identitas mereka kadang tersamar dengan penampilannya yang sangat menarik. Dalam hidup kemunafikan yang ada adalah kepalsuan, topeng penipuan. Meskipun golongan kafir selalu dan akan senantiasa memusuhi ummat Islam, tetapi akibat yang disebabkan permusuhan golongan munafik jauh lebih besar. Hal ini disebabkan karena orang-orang munafik menyembunyikan permusuhannya terhadap Islam. Mereka ibarat api dalam sekam, ibarat musuh dalam selimut, menggunting dalam lipatan. Mereka ( orang-orang munafik ) bermuka manis dan berkata indah di hadapan ummat Islam, seakan-akan mereka itu merupakan pemeluk Islam paling taat, dan pembela Islam sejati, tetapi ternyata ucapan mereka ternyata adalah tipuan dan pada saat tepat mereka  menikam dari belakang. 
Dalam sejarah panjang perjalanan Islam, kelompok munafik inilah yang paling sulit dideteksi oleh Rasulullah. Bahkan keluarga Rasul sendiri pernah menjadi korban dari orang-orang munafik itu. Karenanya Allah sangat murka dengan golongan ini, Allah bahkan menegaskan bahwa tempat orang-orang munafik adalah keraknya neraka ( Neraka paling bawah dan panas ). Karenanya, sebagai ummat Islam, hendaklah kita meningkatkan kewaspadaan terhadap kedua golongan ini ; kafir dan munafik. Menurut para ‘ulama tafsir mengapa surat Attaubah tidak didahului dengan Bismillaahirrrahmaanirraahiim, itu adalah karena dalam surat itu Allah menceritakan tentang sifat dan sikap orang-orang munafik dan Allah sangat benci dengan mereka, sehingga tidak pantas untuk menceritakan mengenai mereka didahului dengan perkataan yang baik.
Mewaspadai golongan kafir dan munafik, adalah dengan merapatkan shaf ( barisan ), memperkokoh persaudaraan sesama Islam, memperkuat persatuan dan kesatuan, mempertebal keimanan kepada Allah SWT, berhati-hati dalam menjalin kerja sama atau kesepakatan dengan kedua golongan tersebut. Allah mengingatkan kita, “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” ( QS. 3 :103 ).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar